Harga Karet Anjlok Hingga Rp 3.500/kg

Harga Karet Anjlok Hingga Rp 3.500/kg

PALEMBANG – Harga karet di tingkat petani jatuh sejak sepekan terakhir hingga melewati batas ambang kewajaran yakni Rp3.500 – Rp4.000 per kilogram yang diduga sebagai dampak anjloknya harga di pasaran ekspor.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumatera Selatan Alex K Eddy di Palembang, Jumat, mengatakan, saat ini harga karet ekspor hanya dipatok sebesar 1,55 dolar AS atau jatuh dari 2 dolar AS per kilogram.

“Saat ini benar-benar jatuh, entahlah bagaimana ke depan jika harga terus jatuh,” kata Alex.

Ia mengeluhkan kondisi ini, mengingat penurunan harga berimbas luar biasa pada petani karet. Sejumlah petani mulai enggan menyadap karet dan memilih beralih profesi sebagai buruh.

“Kebun dibiarkan begitu saja, karena tidak balik modal jika digarap,” kata dia.

Padahal, petani karet sempat girang ketika harga mulai membaik pada akhir tahun yakni mulai tembus Rp8.000 per kg dari harga ideal Rp10.000 per kilogram. Kenaikan ini dipicu harga di pasaran internasional yakni 2,3 dolar AS hingga Maret 2017.

Namun, sejak April 2017, harga mulai bergerak turun dan puncaknya terjadi pada pekan ini.

Oleh karena itu, Gapkindo Sumsel berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah taktis untuk merespon penurunan harga ini mengingat daerah sangat bertumpu pada komoditas ekspor tersebut. Jika lambat diantisipasi, maka penurunan harga karet ini dapat berdampak luas hingga ke sektor lain.

“Seharusnya pemerintah segera merealisasikan rencana penyerapan karet dalam negeri untuk sejumlah proyek infrastruktur. Sejauh ini, semua itu masih sebatas wacana saja,” ujar dia.

Rusnadi, warga Desa Sungutan Air Besar, Kecamatan Pangkalanlampam, Ogan Komering Ilir, mengatakan pemerintah harus mencarikan solusi karena saat ini petani karet berada dalam himpitan ekonomi.

Di kampungnya, harga karet kini dipatok Rp3.500-Rp4.000 per kilogram untuk masa pengeringan dua pekan, katanya.

“Dulu saat harga karet tinggi, warga dusun bisa hidup sejahtera. Tapi kini sulit sekali, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak dapat memenuhi. Harapannya, pemerintah memberikan solusi semisal mencarikan mata pencarian lain,” kata Rusnadi.

Harga karet di tingkat petani melorot tajam akibat pengaruh krisis ekonomi global yang berimbas dengan penurunan permintaan di pasar dunia terhadap sejumlah komoditas.

Pada 2011, harga karet sempat berada di kisaran Rp25 ribu per kg seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi Tiongkok yakni 9,2 persen. Namun, setelah itu harga bergerak turun seiring kebijakan Tiongkok yang menurunkan pertumbuhan ekonominya karena lemahnya perminaan dari Eropa. (ant)

Share This Post