Bab Pemimpin Kepada Rakyat Dan Adab-adabnya

Tanggung Jawab

  1. Setiap orang adalah pemimpin. Setiap jiwa bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan tanggungannya. (QS. Al-Mudatstsir : 38, Muttafaqun ‘Alaih) * Yang dimaksud dengan tanggungan ialah menjaga amanah, menunaikan tugas, menunaikan janji, menjaga batas-batas, menegakkan hukum-hukum Allah.
  2. Menjadi pemimpin adalah suatu fitnah besar. (Imam Nawawi)
  3. Tidak menjadi pemimpin, adalah suatu keuntungan besar, karena terjauh dari tanggung jawab yang besar. Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Sungguh beruntung kamu wahai anak kecil, jika kamu mati belum pernah menjadi amir dan tidak pula sekretaris, dan tidak pula menjadi instruktur (penanggung jawab orang banyak)”. (HR. Abu Dawud)
  4. Laksanakan tugas dengan penuh amanah. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. (Muttafaqun ‘Alaih)
  5. Pemimpin yang tidak melaksanakan tanggung jawabnya, akan sangat menyesal pada hari kiamat. (Muttafaqun ‘Alaih)
  6. Celakalah pemimpin yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. (HR. Ahmad, Baihaqi)
  7. Menjadi hakim adalah beban yang sangat berat. Barangsiapa dijadikan sebagai hakim, seolah-olah telah disembelih tanpa pisau. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Muslim)
  8. Jangan sekali-kali berkeinginan untuk menjadi seorang hakim atau pemimpin. Barangsiapa bercita-cita atau meminta menjadi hakim, maka resikonya akan dipikul sendiri. Tetapi jika dipaksa menjadi hakim, maka Allah akan mengirim Malaikat untuk menuntunnya. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Muslim)
  9. Siapa yang menginginkan kepemimpinan, berarti mendekatkan diri kepada kebencian Allah. (Bisyr bin Harts)

 Sifat Pemimpin

  1. Wajib memperdalam agama sebelum menjadi pemimpin. (Umar bin Khattab ra.)
  2. Pemimpin harus jujur dan tidak curang dalam tugas. Seorang pemimpin akan ditegakkan pada hari kiamat diatas jembatan Neraka. Apabila jujur, ia akan selamat. Jika curang, maka jembatan itu akan terbelah, dan ia akan terlempar kedalamnya selama tujuh puluh tahun. (Bisyr Al-Harits)
  3. Hakim hendaknya senantiasa merasa takut, karena beratnya tugas tersebut. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW. lebih suka tidak menjadi pemimpin, walaupun hanya untuk memimpin dua orang. (HR. Muslim)
  5. Karena tanggung jawab yang demikian berat dan besar, maka para sahabat ra. menolak empat perkara : 1. Menjadi pemimpin.  2. Menerima wasiat.  3. Menerima titipan.  4. Memberikan fatwa. (Al-Ghazali)
  6. Pemimpin hendaknya bersikap lembut terhadap yang dipimpinnya. (QS. Asy-Syu’araa : 215)
  7. Pemimpin wajib bersifat adil. Diantara keutamaan pemimpin yang adil, ialah : a. Akan ditempatkan di mimbar-mim-bar dari cahaya. (QS. An-Nisa’ : 58, HR. Muslim).  b. Mendapatkan naungan ‘Arsy Ilahi pada hari Mahsyar. (HR. Bukhari, Muslim).  c. Sebagai orang yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat kedudu-kannya di sisi-Nya. (QS. Al-Hujurat : 9, HR. Tirmidzi).  d. Sebagai hamba Allah yang paling utama pada hari Kiamat. (HR. Baihaqi).  e. Akan mendapatkan Surga, dan pemimpin yang menyeleweng akan mendapatkan Neraka. (HR. Abu Dawud)

Memutuskan Perkara

  1. Hakim terbagi tiga macam, dua yang masuk Neraka adalah : Salah dalam memutuskan perkara padahal ia berilmu, dan salah dalam berijtihad padahal ia tidak berilmu. Sedangkan satu yang masuk Surga adalah : Benar dalam berijtihad dan ia berilmu. (Abu Dawud)
  2. Jangan sekali-kali mempersulit urusan kaum muslimin. Barangsiapa diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi kaum muslimin, lalu ia mempersulit mereka, maka Allah akan mempersulit dirinya. (Tirmidzi)
  3. Hendaklah memutuskan perkara dalam keadaan tenang, konsentrasi, sehat, tidak dalam keadaan sakit, sedih, senang, lapar, ngantuk, marah. (Asy-Syafi’I, Muttafaqun ‘Alaih)
  4. Pemimpin hendaklah mendengarkan laporan perkara dari yang mengadu dengan adil, jangan memutuskan sesuatu sebelum mendengar keterangan. Sehingga keputusan menjadi bijaksana. (Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)
  5. Pemimpin hendaklah banyak bermusyawarah dalam menunaikan tugasnya dan ketika memutuskan masalah. (An-Nisa’ : 159, Abu Dawud)
  6. Pemimpin yang bijaksana adalah yang memutuskan perkara berdasarkan Al-Qur’an, jika tidak ada, maka berdasarkan sunnah Rasulullah SAW., jika tidak, berdasarkan ijtihad sebaik mungkin. (Tirmidzi, Abu Dawud, Daromi)
  7. Pemimpin yang memutuskan suatu perkara dengan ijtihad yang sungguh-sungguh, kemudian ijtihadnya itu benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika ijtihadnya kurang tepat, maka ia mendapat satu pahala. (Muttafaqun ‘Alaih)

Pemimpin Yang Jahat

  1. Sejahat-jahat pemimpin ialah yang dibenci dan membenci rakyat. (Muslim)
  2. Allah SWT. mengharamkan Surga bagi pemimpin muslim yang mengkhianati rakyatnya. (Muttafaqun ‘Alaih)
  3. Bagi pengkhianat akan dipasangkan sebuah spanduk yang bertuliskan, ‘Inilah si pengkhianat fulan bin fulan’. (Muslim)
  4. Sejahat-jahat pengkhianat, ialah pengkhianatan pemimpin masyarakat kepada rakyatnya. (Muslim)
  5. Pemimpin yang celaka ialah bersikap zuhud terhadap hartanya sendiri, tetapi tamak terhadap harta orang lain. (Abu Bakar ra.)
  6. Sejahat-jahat manusia ialah penguasa zhalim lagi bengis. (Ahmad, Baihaqi)
  7. Tiga perkara yang sangat Rasulullah SAW. takuti atas umatnya : 1. Meminta hujan dengan bintang-bintang. 2. Kezhaliman pemimpin. 3. Mendustakan takdir. (Misykatul Mashobih)

Pegawai Staff

  1. Bagi seorang pemimpin itu ada dua macam pendamping : Pendamping yang baik dan buruk. (Bukhari, Baihaqi, Ahmad)
  2. Pemimpin hendaknya mencari pegawai yang jujur. Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka akan dipilihkan baginya seorang menteri yang jujur, yang mau mengingatkan atasannya jika ia lupa, dan membantunya jika dibutuhkan. (Abu Dawud)
  3. Pemimpin harus selalu menyuruh pegawainya agar memberi kemudahan kepada rakyat, jangan menyulitkan. (Muslim)
  4. Kesalahan pegawai, juga tanggung jawab pimpinan. (Muttafaqun ‘Alaih)

Kepada Rakyat

  1. Seorang pemimpin sangat berperan dan berpengaruh terhadap rakyat. Rusaknya rakyat disebabkan rusaknya pemimpin. (Al-Ghazali)
  2. Pemimpin wajib menasehati rakyatnya agar mentaati Allah. (Muttafaqun ‘Alaih)
  3. Jangan mengkhianati rakyat. Pemimpin yang mengkhianati rakyatnya dan tugasnya, pada hari kiamat nanti akan dihadapkan dalam keadaan terbelenggu. (Daromi)
  4. Jangan sekali-kali menipu rakyat. Allah haramkan Surga bagi pemimpin yang menipu rakyatnya. (Bukhari, Muslim)
  5. Tidak akan masuk Surga, petugas yang menetapkan pungutan sepersepuluh dari penghasilan rakyat. (Ahmad, Abu Dawud, Daromi) * Pajak atas rakyat, dianjurkan kurang dari sepersepuluh pendapatan.
  6. Pemimpin harus selalu memperhatikan keadaan rakyat. Barangsiapa dijadikan pemimpin oleh Allah lalu ia tidak memperhatikan hajat mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan hajatnya. (Abu Dawud, Tirmidzi)

Gaji Pemimpin

  1. Seorang pemimpin boleh mendapatkan gaji dari harta kaum muslimin (Baitul Maal) dengan jumlah secukupnya saja (yaitu menurut musyawarah). (Bukhari)
  2. Fasilitas yang dibolehkan bagi seorang pemimpin dari Baitul Maal kaum muslimin, ialah : tempat tinggal (rumah dinas), pelayan. Jika lebih dari itu, maka tergolong pencurian harta rakyat. Dan hal itu pun boleh diambil, jika ia belum memiliki keduanya. (Abu Dawud, Ahmad)
  3. Jangan sekali-kali menerima suap. Rasulullah SAW. sangat mengutuk penyuap dan yang disuap. (Abu Dawud, Muslim)

Share This Post