Ditemukan Galaksi EGSY8p7, Terjauh di Alam Semesta

Ditemukan Galaksi EGSY8p7, Terjauh di Alam Semesta

Terletak 13,2 miliar tahun cahaya dari Bumi, galaksi ini menjadi galaksi terjauh yang pernah di temukan oleh manusia hingga saat ini.

Astronom menemukan galaksi di alam semesta yang diberi nama EGSY8p7. Galaksi kuno yang sejauh ini merupakan galaksi terjauh yang pernah ditemukan oleh manusia,  terletak 13,2 miliar tahun cahaya dari bumi.

Astrofisikawan yang mengobservasi galaksi terjauh dari bumi ini melihat bahwa galaksi ini terbentuk 600 juta tahun setelah Big Bang—yang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

“Inilah saat dimana kami percaya bahwa galaksi pertama terbentuk dan memiliki pengaruh besar terhadap evolusi alam semesta,” kata Guido Robert Borsani, mahasiswa doktoral di University College London yang turut andil sebagai penulis dalam jurnal penelitian galaksi ini.

“Menemukan galaksi di usia dini seperti ini jarang terjadi dan memberikan kita wawasan yang unik tentang kondisi yang memungkinkan galaksi terbentuk. Kami melihat saat-saat pertama pembentukan galaksi,” ujarnya.

Para astrofisikawan menggunakan Observatorium W.M. Keck di Hawaii tidak hanya untuk mengukur seberapa jauh letak galaksi, tetapi juga usia galaksi dengan mendeteksi garis emisi Lyman-alpha— tanda dari gas hidrogen panas yang dapat mengungkapkan usia galaksi karena dipanaskan oleh bintang-bintang yang baru lahir di galaksi.

Ilustrasi ini menunjukkan ...Ilustrasi ini menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir dalam menyelidiki sejarah kosmik awal. Emisi hidrogen dari EGSY8p7 dapat menunjukkan bahwa galaksi ini merupakan generasi awal galaksi muda yang memancarkan radiasi luar biasa kuat. (Adi Zitrin/California Institute of Technology )

Dr. Adi Zitrin, astrofisikawan dari California Institute of Technology dan penulis utama jurnal dalam sebuah pernyataan terpisah mengatakan, “Kami sering melihat garis emisi Lyman-alpha hidrogen pada objek di dekatnya, dan garis emisi ini merupakan salah satu tanda pembentukan bintang.”

“Namun, jika kita menembus lebih dalam ke alam semesta, dan kembali ke masa lampau, ruang antar galaksi mengandung peningkatan jumlah awan gelap hidrogen yang menyerap sinyal ini.”

Galaksi kuno mungkin akan memberikan penerangan baru tentang bagaimana alam semesta berevolusi di masa lalu.

(Lutfi Fauziah/Sumber: Huffington Post, Space.com) – NationalGeographic

Share This Post