Pers Indonesia Paling Bebas

Pers Indonesia Paling Bebas

PANGKAL PINANG, Jurnalindependen.com — “Tanpa adanya kebebasan pers, maka tidak ada kontrol terhadap pemerintah, masyarakat tidak tahu apa yang sedang dilakukan pemimpinnya, kekuasaan dijalankan sewenang- wenang dan bisa membawa kepada penindasan” kata Urbanisasi pada Seminar Lokakarya (Semiloka) Jurnalis Media Partner Musi Rawas, Jum’at (12/02/2016) di Hotel Santika Pangkal Pinang, dengan materi “Teori Pers Dunia”

Lebih lanjut, mantan jurnalis era orde Baru ini mengatakan bahwa ada empat teori pers yang terkenal dan dijalankan didunia, yaitu teori otoratarian, teori liberatarian, teori tanggung jawab sosial dan teori sovyet komunis.

“Otoratarian adalah teori pers dimana pemerintah memiliki peran yang dominan dalam instrumen pers. Negara Eropa yang menerapkan teori ini adalah Inggris, Prancis dan Spanyol,” kata Urbanisasi.

Liberatarian adalah teori dimana kebebasan diberikan kepada semua orang, selama memiliki kemampuan mendirikan lembaga pers. Tanggung jawab sosial adalah lanjutan dari teori liberatarian dan menjadi pelengkap dari kekurangan yang ada dalam teori lebaratarian.

“Kebebasan pers dilindungi di negara kita, melalui UUD 1945 pasal 28 huruf F tentang kebebasan informasi publik, serta tercantum juga dalam UU no 40 tahun 1999. Namun kebebasan ini kebablasan, hingga terkadang aspek tanggung jawab sosial dan etika pers terabaikan,” lanjutnya.

Teori terakhir adalah teori sovyet komunis, hampir sama dengan otoratarian namun pers digunakan untuk mencapai tujuan negara dalam mensejahterakan rakyat. Teori ini digunakan negara Rusia Era perang dunia ke ll untuk menimbulkan jiwa patriotisme rakyatnya.

“Dari sini kita memahami bahwa Indonesia menjadi negara yang paling bebas pers nya. Pers benar-benar menjadi kekuatan ke empat dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Tumbangnya orde baru menjadi contoh nyata peranan pers dalam kancah kehidupan bernegara,”lanjutnya.

Masyarakat kita menganggap insan pers itu tahu segalanya, untuk itulah insan pers harus menjaga imeg ini. “kita harus slalu meningkatkan kapasitas dan kualitas kita, serta profesional dalam menjalankan pekerjaan kita.  Bekerja sebagai wartawan itu berpahala,” tutupnya. (Ad)

Share This Post